Tampilkan postingan dengan label Dedet Setiadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dedet Setiadi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

DOA BAPAK

Aku hanya berharap
agar anak-anakku tumbuh perkasa
Berpijak di bumi meski dikepung pergeseran
Bisa bercermin
walau di sekitar angin puyuh


Terkadang aku terkejut
menyaksikan para kanak dibelit akar
Berkelakar dengan pasung
pada ceruk jiwanya
pada cekung tatapannya
pada baju terbukanya


Sementara jelas banyak yang mengabur
Nilai-nilai membentang bagai gurun
seluas kecemasan
sejauh keterasingan
yang pendar di sekujur perjalanan

Magelang, 1998
(diambil dari kumpulan puisi "Monolog Di Tepi Kolam)

Kamis, 23 Agustus 2012

POTRET DIRI

Inilah aku
lahir dari kawah masa lalu di daratan miring
sebelum tumbuh biji-biji salak pondoh

Matahari tak selamanya sengat
untuk kemarau awal musim tanam tembakau

Aku lebih suka langit yang terbakar
lebih suka minta hujan bersama para hewan
ketimbang menjadi tadah hujan buatan

Aku suka sawah. Benci hama tikus, wereng dan barisan kera
tapi tak sanggup menolak apalagi mengutuknya
sebab aku dan para tetangga selalu belajar sebagai hamba

Selamatan adalah bahasa hari. Mengepungaminkan tumpeng
adalah bahasaku menampik bencana
adalah puisiku memuja semesta

Aku tak mengidap sakit ketinggian
pagi sore manjat kelapa, ngobong kayu menyulap nira menjadi gula jawa
merbus hidup bersama modin dan sesepuh desa

Bajak lembu adalah alat tulisku. Mengaduk rumus humus anti pestisida
mencampur air kencing kambing dengan daunan kering
tanah pun subur tak ada hingga

Inilah aku
suka piara kerbau tapi tak berarti sealur pikir dengan otak kerbau

Magelang, 2012
(diambil dari kumpulan puisi Gembok Sang Kala)